Dunia Anak Telah Teracuni Oleh Industri
Mungkin dulu kita mengenal Joshua dengan lagunya obok-obok atau Tasya dengan lagunya libur telah tiba dan penyanyi cilik lainnya. Dua lagu ini sering sekali diputar di media elektonik seperti radio dan televisi. Namun, sekarang berkebalikan sangat sulit kita mendengar lagu anak. Entah karena tak adanya penerus generasi Joshua dan Tasya yang telah dewasa. Atau hilangnya kreativitas pencipta lagu anak atau bahkan hilangnya keprihatinan terhadap dunia anak yang tentunya akan menjadi penerus generasi di masa yang akan datang. Sekarang yang kita dengar dan lihat hanya lagu-lagu cinta yang tersebar di media elektronik baik itu televisi ataupun radio. Kita seharusnya prihatin pada nasib generasi penerus bangsa ini yang harus mendengar lagu yang tak sesuai dengan umurnya. Mungkin kita belum menyadari dampak dari anak yang mendengar lagu tak sesuai dengan umurnya. Memang benar karena dampaknya bukan secara fisik namun secara psikis yang tentu tak bisa kita lihat tapi bisa kita perhatikan melalui perubahan tingkah laku. Banyak sekali anak-anak yang menyanyikan lagu dewasa misalnya saja lagu “Kesempurnaan Cinta” dari Rizki Fabian ataupun lagu “Lagu Galau” dari Alghazali.
Setiap tahun selalu muncul grub band atau penyanyi pendatang baru yang kebanyakan hanya mementingkan nilai jual bukan nilai guna. Yang paling menyedihkan setiap tahun selalu ada penyanyi cilik yang ikut meramaikan industri musik tanah air. Bukan menyanyikan lagu yang sesuai umur mereka namun menyanyikan lagu yang belum mereka mengerti makna yang sebenarnya terkadung dalam lagu tersebut. Misalnya saja Coboy Junior (Sekarang CJR) yang mengeluarkan single pertamanya “Eeaa” yang menceritakan seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita yang cantik bagaikan bidadari. Sebelum muncul Coboy junior ada pula The Lucky Laki yang menyanyikan “Aku Bukan Superman” dari judul memang sepertinya adalah lagu anak-anak namun apabila dilihat ke isi dan makna lagu ini lebih mengarah pada cerita seorang yang menangisi kekasihnya yang pergi meninggalkan dirinya dan masih banyak lagi.
Hal ini sangat memprihatinkan seorang yang masih belum bisa diakatakan dewasa menyanyikan lagu-lagu yang harusnya dinyanyiakan oleh orang yang sudah dewasa dan mengerti apa itu cinta. Bahkan sebuah ajang pencarian bakat di bidang menyanyi khusus anak-anak yang penontonnya kebanyakan anak-anak dibawah umur malah mengundang artis dan penyanyi dewasa yang menyanyikan lagu cinta ini sangat ironis sekali. Seharusnya ajang seperti ini mengundang penyanyi cilik atau mantan penyanyi cilik yang menyanyikan lagu yang sesuai dengan peserta dan penontonnya (lagu anak-anak). Bahkan edisi terbaru peserta ajang pencarian bakat ini diharuskan menyanyikan lagu india yang kebanyakan adalah lagu cinta dan bahkan arti dari lagu tersebut tak bisa mereka mengerti. Pencarian bakat ini tayang setiap hari sabtu disalah satu stasiun televisi swasta nasional. Edisi lagu-lagu india tayang pada sabtu dua minggu lalu (12/3). Seharusnya panitia ajang pencarian bakat ini sadar bahwa para peserta seharusnya menyanyikan lagu yang sesuai dengan umur mereka. Tetapi dalam hal ini malah dibiarkan dan bahkan diharuskan menyanyi lagu yang tak mereka mengerti.
Bukan hanya dalam hal lagu, program televisi yang sesuai dengan anak-anak sudah tak ada lagi. Anak-anak dibiarkan menonton program yang tak sesuai dengan usia mereka. Yang lebih memprihatinkan orang tuanya membiarkan dan bahkan menemani sang anak menonton program yang tak sesuai dengan umurnya tanpa ditegur dan dimarahi. Program-program yang ada di televisi Indonesia saat ini didominasi oleh sinetron-sinotron yang tak mendidik anak misalnya saja ada sebuah sinetron yang mengisahkan para Geng Motor yang selalu menghiasi layar salah satu televisi swasta nasional. Menurut Azimah Subagijo salah satu Komisioner KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) saat acara bedah buku “Ketika Film Layar Lebar Hadir di Televisi” di UPN “Veteran” Jawa Timur (15/3) mengatakan bahwa KPI sedang menyoroti sinetron-sinetron yang tayang di televisi-televisi swasta Nasional dan kemungkinan besar sinetron-sinetron tersebut akan segera menerima “Surat Cinta” dari KPI. Menurutnya sinetron-sinetron dengan tema manusia jadi-jadian sudah mendapat sanksi dari KPI namun bukannya jera bahkan akan segara muncul dengan judul yang sama dengan namun dengan menambah “New Generation” dalam judul sinetronnya dan pindah ke televisi yang lain yang masih dalam satu manajemen dengan televisi yang menayangkan Sinetron yang dulunya disanksi. Hal ini sangat memprihatinkan setelah mendapatkan sanksi seharusnya sebuah sinetron ataupun program dihentikan harus dihentikan oleh televisi tersebut, dengan adanya sanksi berarti ada suatu yang melanggar aturan KPI. Dua hal yang menjadi pembahasan diatas seharusnya membuat kita prihatin dengan generasi penerus bangsa. Terutama bagi generasi muda, Kita sebagai generasi muda sudah saatnya untuk memberi perubahan yang akan membuat dunia anak kembali menjadi Indah dan menyenangkan dengan kembalinya lagu anak dan program televisi yang sesuai dengan umur dari anak. Karena dengan begitu generasi penerus kita akan menjadi penerang bagi masa depan bangsa ini.
Komentar
Posting Komentar